Penglihatanku tak Seindah Pendengaranku
Cerah
mentari menyinari mekar sang mawar, menyambut pagi nan indah selaras kicauan
merdu yang ramai. Berpegang tonggak, kumulai beranjak bergegas untuk menyambut
hari ku yang gelap. Bukan karena badai, hanya belum dapat mengerti apa itu
Melihat dalam arti sesungguhnya.
Ammar
kecil Tinggal dan tumbuh bersama dengan neneknya disebuah gubuk kecil,
dipinggiran perumahan elite, dimana mereka hanya tinggal berdua, melewati
hari-hari dengan penuh perjuangan dan kesabaran. Semenjak bayi, penglihatan
Ammar terganggu karena kelainan syaraf pada kedua matanya, yang membuat ayah
dan ibunya bersedih karena harus melihat anak nya menderita gangguan
penglihatan diusia sekecil itu. Kasih sayang kedua orang tuanya, membuat Ammar
terus melalui hari-hari nya yang gelap, semangat yang diberikan kepada
buah hatinya itu berjalan singkat.
Peristiwa kecelakaan telah merenggut kedua orang tua nya, tepat diusia 6 tahun.
Sang nenek lah yang kemudian merawat nya setelah kepergian kedua orang tuanya,
Sadar akan keterbatasan yang dimiliki Ammar, sang nenek pun mengajari dia
banyak hal, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan. Tidak mudah bagi Ammar untuk dapat mengikuti
pendidikan formal dengan keterbatasan yang dimilikinya, tidak sedikit sekolah
yang menolaknya. Sekolah luar biasa adalah salah satu solusinya, namun apa daya
biaya menjadi kendala bagi Ammar dan nenek nya.
Sang
nenek pun tidak lantas berputus asa, Ammar tetap diajarkanya bagaimana cara
menulis dan berhitung, walau semua dalam keterbatasan, semangat dan kemauan lah
yang terus menuntunya untuk terus menuntut ilmu. Membaca adalah hal yang
mustahil bagi Ammar, karena keterbatasannya. Mendengarkan adalah jendela bagi
nya untuk mengerti semua hal tentang dunia luar dari sang nenek. Pada suatu
malam ketika dia keluar rumah, suara merdu berdengung ditelinganya yang datang
dari kejauhan. Alunan piano yang dimainkan seorang anak yang tinggal
diperumahan, membuat Ammar tertarik akan hal itu. Dinamika nada dan alunan pada
music classic membuat nya semakin penasaran akan sumber suara itu. Ammar kecil
pun memanggil sang nenek dan bertanya dari mana asal suara itu dan apa yang
bisa mengeluarkan suara se indah itu.
“itu adalah piano mar, piano
adalah alat music yang mempunyai banyak tombol(tuts), yang memainkanya di
tekan, sehingga saat menekan tombol(tuts) itu secara teratur dan selaras makan
akan menghasilkan suara seperti itu, dan itu berasal dari seseorang yang
memainkanya diperumahan sebelah mar” jawab
sang nenek.
Dari
sana lah awal mula kertarikan Ammar akan piano, hampir setiap malam dia
mendengarkan piano itu mengalun dan ingin sekali memainkanya. Beberapa lagu
yang sering dimainkan anak perumahan itu setiap malam, membuat Ammar hafal akan
beberapa lagu tersebut. Berpegang pada kayu sebagai tongkat nya, secara
perlahan ia keluar dan mendekati kearah suara itu yang menuntunya ke perumahan
tersebut, sampai pada pintu gerbang depan rumah tersebut, iya duduk beralaskan
rumput dan sangat menikmati alunan music tersebut.
Hingga
pada suatu malam, Andra si anak yang memainkan piano ini lelah dan berhenti
sejenak, lalu keluar balkon rumah nya dan melihat-lihat sekitar untuk
beristirahat sejenak, kemudian Andra melihat Ammar yang sedang duduk depan
pagar rumahnya yang bergegas pulang dengan menggunakan tongkat. Namun Andra
tidak menghiraukan hal tersebut. Tapi setiap malam Andra selalu melihat Ammar
duduk didepan pagar rumah nya saat ia sedang bermain piano.
Karena
penasaran, suatu ketika Andra menghampiri Ammar, dan Ammar tidak tahu barulah
saat Andra bertanya Ammar langsung terkejut seketika, karena Ammar takut kalau
dia akan diusir.
Andra : “sedang
apa kamu disini, dan setiap malam aku melihat kamu disini dengan membawa
tongkat itu ?”
Dengan
nada terbata-bata Ammar menjawab “oohh
tidak, aku hanya sedang mendengarkan piano yang berasal dari rumah itu, sangat
indah sekali suara nya”.
Andra
pun terheran-heran karena hampir setiap malam dia ada didepan rumahnya. Lalu
Andra pun berkata “yang setiap malam
memainkanya itu aku, aku lah orang nya, tapi dimana kamu tinggal…?? Dan apa
yang membuat mu tertarik pada piano…??”
Ammar
: “aku tinggal di rumah kecil disebelah
perumahan ini bersama dengan nenek, dan yang membuat ku tertarik pada piano
adalah suara dari piano itu, karena hanya pendengeran yang dapat memberi ku
suatu keindahan, dan aku ingin sekali
suatu hari dapat memainkanya”.
Dan
seketika pun Andra terenyuh mendengar Ammar mengatakan demikian. Begitu keras
nya tekad Ammar untuk dapat memainkan piano karena hampir setiap malam datang
kerumahnya, namun apa daya Ammar bukan orang yang punya banyak materi
berlimpah. Konflik batin melanda jiwa Andra, dia berfikir bahwa dengan
keterbatasan yang dimiliki Ammar, namun tekad dan kemaunya sangat tidak
terbatas, hanya saja dia belum beruntung. Seketika itu pula Andra berkata : “besok siang kalau kamu ada waktu datang lagi
kesini, ada yang aku ingin bicarakan”. Dengan wajah terkejut Ammar pun meng
iyakan tawaran dari Andra. Siang itu Ammar telah datang dirumah Andra, dan
Andra pun mengajak masuk Ammar dan menunjukan piano kepada Ammar dengan
mempersilahkan Ammar memegang piano tersebut dan menekan tuts piano. Seperti
mimpi disiang bolong bagi Ammar, karena begitu tidak percaya nya dapat mengenal
piano dan menekan tuts piano. Andra pun senang, karena dia memiliki teman baru,
maklum lah Andra memiliki sedikit teman karena tinggal di perumahan elite
dimana orang-orang atau tetangga sekitar jarang ada dirumah karena kesibukan
masing-masing.
Singkat
cerita Andra mengajarkan cara memainkan piano bukan dengan cara membaca partitur,
tetapi memberikan instruksi kepada Ammar cara memainkanya secara pelan-pelan.
Hampir setiap hari mereka berlatih bersama walau kehebatan Ammar tak sehebat
Andra, tetapi untuk orang seperti Ammar adalah hal yang luar biasa, karena
dengan keterbatasan dia sudah dapat memainkan beberapa lagu dalam beberapa
bulan. Ammar pun menaruh rasa kagum kepada Andra, karena dia sangat sabar dalam
mengajari nya memainkan piano. Berbulan-bulan dan bertahun-tahun berlalu dan
mereka pun sering memainkan nya bersama/berduet. Melihat kelincahan dan
semangat Ammar, Andra pun berfikir untuk mengajak Ammar tampil dalam
pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh tempat sekolah music Andra belajar.
“mar kita harus lebih sering latihan
lagi, karena akan ada pertunjukan music ditempat ku belajar bulan depan”. Kata Andra. Ammar pun
terheran kenapa dia bilang kita, padahal sudah dapat memainkanya saja sudah
cukup bagi nya, “kita ndra, kita berdua
akan memainkannya didepan banyak orang…?? Kamu dan aku…??”, Tanya terheran
Ammar kepada Andra.
“iya aku akan mengajak kamu untuk tampil
bersamaku nanti didepan banyak orang” kata Andra. Seketika Ammar pun terdiam, dan dia seperti orang tidak percaya
diri, karena dia tau dia memiliki keterbatasan. Andra pun langsung dapat mengerti apa yang dirasakan Ammar, “sudahlah mar, jangan terlalu banyaj mikir,
percaya diri saja dengan kemampuan kamu, dengan keterbatasan kamu, kelak kamu
akan menginspirasi banyak oran”. Kata Andra. Dengan masih rasa tegang,
takut dan tidak percaya diri Ammar mengangguk apa kata Andra. Sesampainya
dirumah Ammar menceritakan hal tersebut kepada neneknya, dengan penuh harapan
dan rasa syukur neneknya pun mendukung dan memotivasinya untuk terus maju dan
percaya diri.
Singkat
cerita, perasaan campur aduk bukan kepalang dirasakan Ammar mulut berkomat
kamit memanjatkan doa kepadaNya untuk diberikan yang terbaik serta dukungan
dari sang nenek yang terus berada disampingnya. Beberapa menit kemudian mereka
berdua akan tampil, namun Andra terus memberi semangat kepada Ammar, dan Ammar
pun memohon izin ke pada neneknya. Tiba saat nya mereka berdua dipanggil oleh
pembawa acara, dan mereka segera naik ke panggung pementasan. Seluruh penonton
terdiam, terpaku dan terpanah karena mereka terkejut bahwa orang yang akan
tampil manggunakan tongkat yang terus menunjuki jalanya. Panitia
penyelenggarakan pun mempersiapkan dua piano, untuk mereka berdua. “mar ingat kita main seperti biasa saja,
seperti sedang berada dirumah ku, focus yaa” kata Andra. Ammar pun mengangguk
dan sebuah keuntungan bagi Ammar, karena gangguan terhadap matanya, dia akan
bisa focus bermain. Sepanjang pertunjukan seluruh penonton terperangah, berdecak
kagum dan seolah-olah mereka semua tidak mengedipkan mata nya melihat
pertunjukan mereka berdua, bukan… mereka lebih melihat permainan Ammar yang
buta tetapi sama sebaik dengan permainan Andra.
Standing applause pun tumpah ruah untuk mereka berdua,
terlebih untuk Ammar, dan pembawa acara pun langsung menyambut mereka dan
bertanya banyak khususnya kepada Ammar. Entah mimpi atau bukan Ammar tetap
belum percaya dengan respon dari penonton dan seluruh panitia, dia hanya
berbicara secukupnya ketika diwawancarai oleh pembawa acara. Dengan meneteskan
air mata ia menghampiri sang nenek dan terus bersyukur atas pencapaiannya
tersebut. Andra pun sangat senang atas apa yang dipertunjkan Ammar dan juga
tidak lupa untuk memuji dan memberi selamat kepada Ammar. Bagi Ammar disanalah
debut nya dimulai untuk mencapai jalan yang lebih panjang lagi, “seribu mil diawali dengan satu langkah
kecil” kata itu lah yang cocok untuk Ammar. Media cetak pun terus
menularkan pemberitaan tentang mereka berdua kepada masyarakat luas, dan
perjalanan karir mereka terus naik hingga Ammar yang tadinya sangat tidak
percaya diri kini telah terbiasa akan hal itu, bahkan dapat dikatan sebagai
pemain piano dengan penyandang cacat terbaik dengan keterbatasan yang
dimilikinya.
Hari
ini Ammar dan Andra sedang dalam acara pembukaan sekolah music bagi anak-anak
berkebutuhan khusus. Benar, sekolah ini adalah milik Ammar seorang, dia ingin
bahwa orang-orang atau anak-anak yang senasib dan kurang mampu seperti dirinya
ini bisa terus maju walau dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Banyak orang-orang diluar
sana menganggap bahwa kesuksesan hanya dapat diraih melalui jalur
sekolah/pendidikan formal saja serta bagi orang-orang yang normal, lantas
bagaimana dengan orang-orang berkebutuhan khusus, pikirnya demikian. Dan dengan
adanya sekolah ini, Ammar berharap akan ada banyak Ammar-Ammar yang lain yang
lahir kemudian. Kali ini Ammar benar-benar menyadari bahwa penglihatan yang
sesungguhnya ialah, bukan hanya dapat melihat dengan sepasang mata saja, tetapi
juga dengan hati yang dapat memilih hal-hal yang baik dan benar dan yang dapat menuntunya bagi perubahan
diri nya sendiri serta lingkungan sekitar,
Hal
yang dapat kita petik bahwa, tidak ada yang tidak bermanfaat ketika Allah
menciptakan sesuatu dimuka bumi ini termasuk Ammar, karena keterbatasan bukan
penghalang untuk seseorang meraih cita-cita dan kesuksesan, niat dan kemuan
yang kuat serta konsisten dalam berlatih yang akan menuntun kita pada titik
kesuksesan. Dan perlu diingat bahwa dalam meraih kesuksesan kita tidak dapat
berdiri sendiri, melainkan akan ada banyak orang-orang yang turut serta dan
berjasa dalam proses kesuksesan kita kelak. Kesuksesan itu seperti jalan ”seribu mil, diawali dengan satu langkah
kecil”, yang artinya pencapaian yang sulit memang panjang dan jauh, namun
kita harus memulai nya dengan sesuatu yang kecil secara terus menerus dengan
niat yang kuat dan jangan berputus asa.
Komentar
Posting Komentar